Rasa Gurih Kecap Benteng SH

"Soal rasa, Kecap Benteng SH tak perlu diragukan lagi." Siang itu, di sebuah bangunan tua berdinding abu-abu, tampak kuli-kul...

"Soal rasa, Kecap Benteng SH tak perlu diragukan lagi."

Siang itu, di sebuah bangunan tua berdinding abu-abu, tampak kuli-kuli angkut hilir-mudik mendorong gerobak besi beroda dua. Di atasnya tampak tumpukan kardus cokelat berlabel Kecap Benteng SH (Siong Hin -red). Kuli-kuli angkut itu mondar-mandir dari satu mobil ke mobil lainnya; mengangkut kardus-kardus ke dalam bagasi, bertransaksi, lalu kembali lagi ke dalam rumah. Kuli lainnya keluar dengan gerobak lainnya, lalu menuju mobil satunya. Sibuk sekali.

Rasa Gurih Kecap Benteng SH

Bangunan tua itu rupanya adalah sebuah pabrik. Ya, Pabrik Kecap Benteng SH. Terletak di Jalan Saham, Tangerang lama. Hanya berjarak beberapa ratus meter dari GOR Tangerang. Didirikan oleh seorang keturunan Tionghoa bernama Lo Tjit Siong pada 1920. Pabrik dan pendistribusiannya masih di tempat yang sama. Maka wajar saja, jika siang itu banyak orang datang untuk membeli kecap langsung dari pabriknya, mulai dari pengusaha restoran hingga para pedagang makanan kaki lima.

Konon, kecap berasal dari kata Koechiap. Dalam sebuah artikel dikatakan, terkadang menunjukkan ‘kemenangan’ selera lokal. Setidaknya di Tangerang, terutama pada warga Cina Benteng, kecap bermerek SH adalah pilihan utama. Salah seorang pembeli bahkan mengaku, sedari pagi sudah datang untuk membeli lebih dari 10 dus kecap. "Saya khawatir kehabisan. Di sini cepat sekali habis, soalnya hanya dibuat dalam stok terbatas. Soal rasa, Kecap Benteng SH tak perlu diragukan lagi," jelas pria yang memiliki sebuah restoran di kawasan Tangerang itu.

Seorang kuli angkut yang ditemui juga mengatakan, banyak orang datang untuk beli berpuluh-puluh dus. “Katanya rasanya gurih,” ujarnya. Sayangnya, ia tak berani bicara berapa banyak jumlah kecap yang diproduksi dan dijual dalam satu hari.

Di meja kasir, Nampak seorang bapak tua sedang menghitung tumpukan uang, sesekali ia mencatat dan menggunakan kalkulator. Kata seorang penjaga pabrik, ia bernama Latief Sukaryadi, salah satu dari generasi keempat pembuat kecap SH. Ia terus mencatat, fokus sekali. Namun sayangnya, Latief tidak ingin berbicara banyak. Ia mengaku tidak mendapat izin bicara apapun dari delapan pendiri lainnya.

Latief Sukaryadi generasi keempat pembuat kecap SH

Setiap harinya, pabrik buka dari pukul delapan pagi sampai empat sore, tapi Sabtu hanya buka sampai pukul 12 siang.


Source: http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/2358/kecap-benteng-sh-terkenal-hingga-pedagang-kaki-lima

Related

Wisata dan Budaya 2123987955265787109

Posting Komentar Default Comments

emo-but-icon

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item